menu

Kamis, 31 Oktober 2013

PERLAWANAN TERHADAP PORTUGIS


A.    PERLAWANAN KERAJAAN ACEH
1.       Sampai abad 19 Aceh merupakan daerah yang berdaulat dan dihormati oleh dua imperialis di Indonesia dan sekitarnya yaitu Inggris dan Belanda. Berdasarkan Traktat/perjanjian London 1824 maka Aceh dijadikan daerah penyangga (Bufferstate) antara kekuasaan Inggris di Malaka dengan Bengkulu yang diserahkan Inggris kepada Belanda.
2.    Keadaan tersebut tidak dapat bertahan lama karena adanya kepentingan Belanda yang berniat menduduki Aceh sehingga timbullah perlawanan rakyat Aceh, dan terjadilah perang.
3.    Sebab-sebab Perang Aceh
·         Belanda merasa berhak atas daerah Sumatra Timur yang diperoleh dari Sultan Siak sebagai upah membantu Sultan dalam perang saudara melalui Traktat Siak tahun 1858, sementara Aceh berpendapat daerah terebut merupakan wilayahnya.
·         Sejak Terusan Suez dibuka tahun 1869 perairan Aceh menjadi sangat penting sebagai jalur pelayaran dari Eropa ke Asia.
·         Keluarnya Traktat Sumatra tahun 1871 yang menyatakan bahwa Inggris tidak akan menghalangi usaha Belanda untuk meluaskan daerah kekusaannya sampai di Aceh dalam rangka Pax Netherlandica. Traktat Sumatra yang mengancam kedaulatannya. Aceh berusaha untuk mencari bantuan dengan mengirim utusan ke Turki. Selain itu juga dijalin hubungan ke perwakilan negara Amerika Serikat dan Italia di Singapura. Tindakan Aceh ini mencemaskan Belanda lalu menuntut Aceh agar mengakui kedautalan Belanda. Aceh menolak tututan tersebut sehingga Belanda melakukan penyerangan.

4       Sifat perlawanan Aceh ada dua macam yaitu politik dan keagamaan. Perlawanan politik bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan Aceh. Perlawanan politik dipimpin oleh para bangsawan yang bergelar Teuku.
5.     Tokoh-tokoh bangsawan itu  antara lain Teuku Umar dan isterinya bernama Cut Nyak Dien, Panglima Polim, Sultan Dawutsyah, Teuku Imam Lueng Batta. Perang juga bersifat keagamaan yaitu menolak kedatangan Belanda yang akan menyebarkan agama kristen di Aceh. Tokoh keagamaan adalah para ulama yang bergelar Teungku contoh Teungku Cik Di Tiro. Golongan ulama tidak mudah menyerah dan kompromi terhadap Belanda.
6.     Tindakan-tindakan yang dilakukan Sultan Ali Mughayat Syah raja aceh :
·         Mengadakan kerja sama dengan kerajaan demak untuk menghancurkan portugis
·          Menjalin hubungan dan meminta bantuan senjata kepada Turki, Inggris, Gujarat, dan Goa
·         Melengkapi kapal-kapal dagannya dengan prajurit dan senjata.
7.   Jalan Perang :
·         Pada bulan April tahun 1873 pasukan Belanda dipimpin oleh Mayor Jendral JHR Kohler menyerang Aceh namun gagal bahkan Jendral Kohler tewas dalam pertempuran memperebutkan masjid Raya.
·         Pada bulan Desember 1873 pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Jendral Van Swieten dapat menduduki istana serta memproklamirkan bahwa kejaraan Aceh sudah takluk. Nama Banda Aceh kemudian diganti kota raja. Apakah Aceh benar-benar sudah takluk kepada Belanda? Ternyata tidak demikian. Raja Aceh yaitu Sultan Mahmudsyah wafat karena sakit. Putranya yang bernama Muhammad Dawotsyah menjalankan pemerintahan di Pagar Aye. Rakyat Aceh tetap melanjutkan perlawanan dipimpin oleh Panglima Polim.
·         Fase berikutnya sejak tahun 1884 Belanda mempertahankan kekuasaan hanya di daerah yang didudukinya saja. Disitu dibentuk pemerintahan sipil. Sistem ini disebut Konsentrasi Stelsel.

8.     Akhirnya usaha Portugis dan Kerajaan Aceh untuk saling menghancurkan tidak berhasil. Pertentangan antara Portugis dan Kerajaan Aceh berakhir setelah kekuasaan Portugis di Malaka mengalami keruntuhan dengan direbutnya Malaka oleh Belanda pada tahun 1641


B.  PERLAWANAN KERAJAAN TERNATE

1.       Bangsa portugis pertama kali tiba di Maluku, yaitu di Pulau Banda pada thaun 1512. Di Banda, mereka membeli pala, cengkeh, dan fuli yang ditukar dengan bahan pakaian dari India. Setelah selesai melakukan perdagangan di Banda, kapal-kapal Portugis sampa di Hitu dan Ternate. Bangsa Portugis diterima penduduk Ternate dengan baik karena dianggap akan memajukan hubungan perdagangan di antara kedua belah pihak. Bangsa Portugis bahkan diberi kesempatan untuk mendirikan benteng yang ditujukan melindungi persekutuan Tidore Spanyol. Kesempatan itu tidak disia-siakan dengan cara membangun Benteng Saint John di Ternate pada tahun 1522.
2.     Bangsa portugis juga berhasil mengajukan keinginan untuk memonopoli perdangan rempah-rempah yang dituangkan dalam suatu perjanjian. Seja adanya perjanjian tersebut, rakyat Ternate merasa dirugikan karena harus menjual rempah-rempah dengan harga sangat rendah kepada Portugis. Bangsa Portugis yang baru dikenal sebagai sahabat kemudian berubah menjadi pemeras. Olehkarena itu, rakyat Ternate serentak menyatakan permusuhannya terhadap bangsa Portugis.
3.     Pada tahun 1533 rakyat Ternate membakar benteng milik Portugis di bawah pimpinan Dajalo. Portugis segera mengirim bala bantuan dari Malaka di bawah pimpinan Antonio Galvao pada tahun 1536. Rakyat Ternate dan daerah-daerah lain di Maluku kembali berjuang mempertahankan wilayahnya. Pada akhir peperangan, Antonio Galvao berhasil memaksakan perdamaian dengan Rakyat Maluku sehingga Portugis masih dapat mempertahankan kekuasaan di wilayah ini.
4.     Untuk beberapa saat Portugis masih dapat memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Hal ini diperkuat dengna perjanjian yang dibuat tahun 1570 antara Gubernur Lopez de Mesquita dan Raja Ternate Sulatan Hairun. Namun, tidak berapa lama setelah perjanjian itu dibuat, Sultan Hairun dibunuh oleh suruhan Lopez de Mesquita. Kejadian ini menyulut kemarahan Sultan Baabullah, putra Sultan Hairun.
5.     Peperangan rakyat Ternate melawan Portugsi segera berkobar. Selama hampir tujuh tahun Portugis terkurung di dalam benteng-bentengnya. Satu demi satu benteng-benteng itu dapat direbut Rakyat Ternate. Pada tahun 1577 rakyat Ternate dapat mengusur Portugis dari wilayahnya. tepatnya tanggal 28 Desembar 1577
6.     Sultan Baabullah tidak memerintahkan membunuh bangsa Portugis ketika mereka dalam keadaan tidak berdaya. Hal ini mencerminkan sikap kesatria seorang pejuang yang membela tanah air dan bangsa. Setiap manusia berkewajiban untuk menentang praktik-praktik ketidakadilan sebagai perwujudan rasa cinta terhadap nilai-nilai kemanusiaan.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar