menu

Kamis, 31 Oktober 2013

Emotion BB


«| /.▼>. HAA>=)HAA>=)HAA>=) |_/ \_ HAA>=)HAA>=)HAA>=)

Loe ::  ┐('o' ┐)  
Gue :: (┎ '_' ┒)
End :: ┒(⌣˛⌣)┎ 
Cium  :: (˘⌣˘)ε˘`)
Sedih  ::  (⌣́_⌣̀)
Joget :: ~(˘▾˘)~
Tendang ::  \( #`⌂´)/┌┛
Nendang :: (ヽ `д´)┌┛★)`з゜)
In Love :: (♥o♥)
In Love2 :: ƪ(♥ε♥)ʃ
Ngelirik :: (¬_¬")
Lirik ::  ¬_¬
Dance :: ヘ(^_^ヘ) (ノ^_^)ノ
Dance2 :: "ƪ(˘⌣˘)┐"ƪ(˘⌣˘)ʃ" ┌(˘⌣˘)ʃ"
Yeay :: \(´▽`)/
Yummy :: (˘ڡ˘)
Hoi ::  \(‾▿‾\)
Hoi2 :: (/‾▿‾)/
Ahh :: ┌("˘o˘)┐
Idontknow::  ┐(´_`)┌
whocares::  ╮(^▽^)╭
Galau :: (˘ε˘ƪ)
Marah :: (╯҂ ‵□′)╯
Babi :: ( ´(oo)`)
Siul :: ♪(´ε` )
Kabur :: ~ ~ (\ ‾o‾)/
Kabur2 :: ~ ~ \(!!˚☐˚)/
Kaget :: (!!˚☐˚)
Kaget2 :: (˚☐˚!!)
Gunting :: (" `з´),8
Jewer ::  ( ˚☐° >ɔ-(´̩ε `̩ƍ)
Tonjok ::  ("¬_¬)--o)*з*)ː̖́.
Iblis :: Ψ(▸_ ◂✗)
Sabarya ::  (⌣́_⌣̀)\('́⌣'̀ )
Peace ::  ♉(˘♢˘)♉
Laptop :: \__~(˘▾˘~)
Ngantuk :: (Θ˛Θƪ)
Marah :: (`⌂´#)
Nangis :: (╥_╥)
Emosi ::  Щ(ºДºщ)
Emosi2 ::  (۳ ˚Д˚)۳
Jeles ::  (‾^‾)
Pacaran :: (‾▽‾)♥(‾⌣‾)
Pacaran2:: (ɔ ˘⌣˘)♥(˘⌣˘ c)
Bingung ::  ƪ(° ̯˚ ʃ)
Hahaha :: нªª˘°˘нªª˘°˘нªª˘°˘
Sebel :: ( ° -`ω´-)
Tinju :: (Q╰_╯)==○☆‎(x,☉")
Mumet ::  (๑_๑)
Mohon :: (˘ʃƪ˘)
Ngetawain:: (`▽´)-σ
Nunjuk ::  (¬-̮¬)-σ
Nyanyi ::  ♫♪♫( ´▽`)
Capek :: (‾⌣‾"٥)
Capede ::  ƪ(‾ε‾“)ʃ
Peluk :: (っ˘з˘)っ
Malu :: (≧◡≦)
Asyik :: (´⌣`ʃƪ)
Grr :: Ϟ(`﹏´)Ϟ
Wkwk :: °~=))••°wk.wk.wk°••=))~°
Hoam ::  HOoº°ºoOam ((˘O˘ )
Hiks ::   (ಠ_ರೃ)
Huaa ::  (ಥ ̯ ಥ)


Mabok :: ╭ (′▽`)╯
Yah :: ╮(╯_╰")╭
Pukul :: (" `з´ )_,/*(>_
Huu ::  p(´⌒`q)
:love   ♥
:star   ★
:star2   ☆
:music   ♫
:flower   ✿
:smile   ☺
:happy   (‾▿‾)
:happy2   ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ
:loe   ┐('o' ┐)
:gue   (┎ '_' ┒)
:end   ┒(⌣˛⌣)┎
:cium   (˘⌣˘)ε˘`)
:mewek   (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)‎
:sedih   (⌣́_⌣̀)
:joget   ~(˘▾˘)~
:tendang   \( #`⌂´)/┌┛
:nendang   (ヽ `д´)┌┛★)`з゜)
:inlove   (♥o♥)
:inlove2   ƪ(♥ε♥)ʃ
:inlove3   (ɔ ˘⌣˘)~♡
:ngelirik   (¬_¬")
:lirik   ¬_¬
:dance   ヘ(^_^ヘ) (ノ^_^)ノ
:dance2   "ƪ(˘⌣˘)┐"ƪ(˘⌣˘)ʃ" ┌(˘⌣˘)ʃ"
:yey   \(´▽`)/
:yummy   (˘ڡ˘)
:hoi   \(‾▿‾\)
:hoi2   (/‾▿‾)/
:ahh   ┌("˘o˘)┐
:cantik   ( ˘͡ -˘͡)
:idontknow   ┐(´_`)┌
:whocares   ╮(^▽^)╭
:galau   (˘ε˘ƪ)
:marah   (╯҂ ‵□′)╯
:babi   ( ´(oo)`)
:siul   ♪(´ε` )
:kabur   ~ ~ (\ ‾o‾)/
:kabur2   ~ ~ \(!!˚☐˚)/
:kaget   (!!˚☐˚)
:kaget2   (˚☐˚!!)
:gunting   (" `з´),8<
:jewer   ( ˚☐° >ɔ-(´̩ε `̩ƍ)
:pukul   (" `з´ )_,/*(>_<' )
:tonjok   ("¬_¬)--o)*з*)ː̖́.
:iblis   Ψ(▸_ ◂✗)
:sabarya   (⌣́_⌣̀)\('́⌣'̀ )
:peace   ♉(˘♢˘)♉
:leptop   \__~(˘▾˘~)
:ngantuk   (Θ˛Θƪ)
:marah   (`⌂´#)
:nangis   (╥_╥)
:emosi   Щ(ºДºщ)

[[ Update ]]  → New Emoticon BlackBerry Messenger

:emosi2   (۳ ˚Д˚)۳
:gunting   (" `з´),8<
:jeles   (‾^‾)
:pacaran   (‾▽‾)♥(‾⌣‾)
:pacaran2   (ɔ ˘⌣˘)♥(˘⌣˘ c)
:bingung   ƪ(° ̯˚ ʃ)
:hahaha   нªª˘°˘нªª˘°˘нªª˘°˘
:sebel   ( ° -`ω´-)
:huuu   p(´⌒`q)
:tinju   (Q╰_╯)==○☆‎(x,☉")
:mumet   (๑_๑)
:mohon   (˘ʃƪ˘)
:ngetawain   (`▽´)-σ
:kacamata   Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴̴͡
:nunjuk   (¬-̮¬)-σ
:nyanyi   ♫♪♫( ´▽`)
:capek   (‾⌣‾"٥)
:capede   ƪ(‾ε‾“)ʃ
:unyu   (っ˘з˘)っ
:malu   (≧◡≦)
:asyik   (´⌣`ʃƪ)
:grr   Ϟ(`﹏´)Ϟ
:wkwk   °~=))••°wk.wk.wk°••=))~°
:hoam   HOoº°ºoOam ((˘O˘ )
:huaa   (ಥ ̯ ಥ)
:hiks   (ಠ_ರೃ)
:mabok   ╭ (′▽`)╯
:yah   ╮(╯_╰")╭
:lope   (。♥‿♥。)
:elo   (σ‾▿‾)-σ
:kiss   O̷̴̷̴̐ﻬO̷̴̷̴̐
New Emoticon BlackBerry Messenger
Elo ┒(‘o’┒) gue (┎’,'┒) = best friend forever (/˘▽˘)/(˘▼˘)
┒(‘o’┒) LOE JOMBLO !! , (┌’,'┐) GUE NGGAK = ┒(⌣˛⌣)┎ Kasian deh loo !!
┒(‘o’┒) LO JOMBLO , (┌’,'┐) GUE JOMBLO = (~ˆ⌣ˆ)~ ~(ˆ⌣ˆ~) KITA SOHIB
┒(‘o’┒) ELO MU, (┎’o')┎ ELO BARCA = GUE TTP MADRID ƪ(♥•*⌣*•♥)ʃ
┒(‘o’┒) LO , (┌’,'┐) GUE = ┒(⌣˛⌣)┎ END !
Gue (┌’,'┐) suka (ʃ’o')ʃ gaya lo !
┌( ‘.’ )┐ gue jomblo (┌’.')┌ lo punya pacar = (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)”
┒(‘o’┒) ELO JOMBLO (┌’,'┐) GUE JOMBLO = (┌’⌣’)┌♥┐(‘⌣’┐) JADIAN YUUK!!
┒(‘o’┒) ELO + (┌’,'┐) GUE = ┒(^o^)┎ Jodooooohhhh └(˘.˘└) *αmiεn* └(˘.˘└) *αmiεn*
(┎’o')┎ kamu… (┎’o')┎ kamu… ┒(‘o’┒) kamu… lagi (˘o˘)ʃ..
Eloh ┒(‘o’┒) bikin Guweh (┌’,'┐).. (˘▽˘)/gak..(.o.)gak..gak(˘o˘)/kuat..(.o.) gak..gak..(˘o˘)ʃ gak levell..
(┎’o'┒) gue naik kelas (┎’o')┎ lo naik kelas ┒(^o^)┎ kita semua naik kelas
┒(‘o’┒) Lo (┌’ ,’)┌ Dia ┒ (⌣˛⌣)┎ End = (┌’ ,’┐) Gue ~(‾▿‾)~ Happy!
(┎’o')┎ LO + (┎’o'┒) GUE = LONGLAST (´▽`)/
┌( ‘.’ )┐ gue punya pacar (┌’.')┌ lo punya pacar = Yaudah ! Ahelah ! (¬_¬”)
(┌’.')┌ lo baik sama gue = (┌’,'┐) gue bakal lebih baik sama lo ƪ(˘⌣˘)ʃ
(┎’o')┎ lo china ┒(‘o’ ┒) lo kamboja = (┎’o'┒) gue indonesia dong #iloveindonesia

New Emoticon BlackBerry Messenger
(#^o^#) = malu
(O_o)*!! = Kaget
(∩_∩) = Senyum
(✗_✘)” = die
(ーー; ) = khawatir
(´ー`)┌ = Mellow
ː̗(^▽^)ː̖ = Ketawa
(*^▽^*) =Semangat
(⌣́_⌣̀) = Sedih
(T^T) = menangis
(* ̄m ̄) = terharu
╭(^▽^)╯ = Nyanyi
(≧o≦)/ = No
(^o^)/ = Yes
(≧∇≦)/ = congratulation
┌П┐(►˛◄’!) = Fuck u
(@_@) = abis begadang jd mata panda
(* O *) = Ngantuk
(~_~) = Berpikir
ƪ(‾ε‾“)ʃ = I dont care
(^o^)V = Peace
( ゜O ゜) = Ooooowh
( ♥͡▽♥͡ ) = Fallin in └ºνє♡
(♉ . ♉) = curig
New Emoticon BlackBerry Messenger
٩(-̮̮̃-̃)۶ ٩(͡๏̯͡๏)۶ ٩(̾●̮̮̃̾•̃̾)۶ ٩(•̮̮̃•̃)۶ ٩(̮̮̃̃)۶ ٩(̮̮̃•̃)۶
ツ “̮‎ (•̯͡.•̯͡ (•͡. •͡ !) ε(•˛.•̃)з (•͡. •͡) ε(¬.¬)з
ε( •̃͡-̮•̃͡)з (•̃o•̃) (•͡. •͡ !) •̃͡(º-̮º) •̃͡ (•̃͡-̮•̃͡)
(⊙_⊙) Errrr. . . . ‎‎(♥-̮♥)‎‎
(•`ö˘•) õwWħ… ╭╮(  ̄, ̄”)╭╮ (⌒˛⌒)
ː̗̀(☉.☉)ː̖́ (っ •͡ з •͡) ⌣́_⌣̀ (-̩̩-̩̩͡_-̩̩-̩̩͡) ♌•͡˘.˘ •͡♌
(-̩̩̩-͡ ̗̊–̩̩̩͡ ) (Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴̴͡) ƪ(^⌣^)ʃ ƪ(ˆ⌣ˆ)ʃ ε(•̃⌣•̃)з‎
ε(•̯͡_•̯͡ )з (-__-”) (•͡˘˛˘ •͡ !) (•͡˘˛˘ •͡ ¨)
ƪ(‾ε‾)ʃ ƪ(ˇ▿ˇ)ʃ ƪ(‾ε‾“)ʃ ▹(ˇ⌣ˇ)◃ ƪ(˘ε˘”)ʃ‎
(o・_・)ノ”(⌣_⌣..) ƪ(^ε^)ʃ
╭(*⌒з⌒)人 (⌒ε⌒*)ノ‎ >̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴͡*
(..•˘___˘•..)‎ (“▔□▔)/ ARGHHHH!!!
(‘-’ ) (._. ) ( ._.) ( ‘-’)‎ (╥ ﹏╥)
(⌣́_⌣̀)‎• *˚* • O:) Ämin O:) • *˚* •‎
New Emoticon BlackBerry Messenger
♥*Muãch:*♥
*♥*Muãch:*♥*
Ħaǻ •̃͡-̮•̃͡Ħaǻ •̃͡-̮•̃͡Ħaǻ •̃͡-̮•̃͡Ħaǻ •̃͡-̮•̃͡Ħa
‎ƪ(‾ε‾“)ʃ tau akhƪ(“‾ε‾)ʃ‎
(ˇ_ˇ”)‎ ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ‎ ‎
(¬_¬“)‎ :OŎő•••őŎő:O (o˘з˘)hmm..
(◦ “̮ ◦) (◦ “̮ ◦)•*¨*•.¸ ✗_ ✘ (• ˆ⌣ˆ •)
( • ε • “) └(•̃˛•̃)┐(•̃˛•̃)/└(•̃˛•̃)┐‎
ƪ(˘ە˘)┐ ƪ(˘ە˘)ʃ ┌(˘ە˘)ʃ
(•͡˘˛˘ •͡)”" curiga ‎‎‎‎(•͡˘˛˘ •͡)”"
(..•͡˘_˘ •͡..)HaRap² CeMaS••••••
Ε===┌ ( ¯ ▽¯)┘ kejarrrrrrr !!!‎ ‎‎
┌П┐ d(-.-)b‎‎‎‎ ┌П┐ d(-.-)b ┌П┐
╭∩╮(︶ε︶メ) ┌П┐(◣_◢)┌П┐
♥̸̨ ♥̨ ♡̷̷̷̷̷̷ ♡̨ ♡̷̬̩̃̊ ♡̲̅ ♑ ♥̲̅ ☀̲̅
°♡♥tнänκ чöü♥♡


#From : http://eghaeghooy.blogspot.com/2012/12/auto-text-bb-emoticon-bb-terbaru-2013.html

PERLAWANAN TERHADAP PORTUGIS


A.    PERLAWANAN KERAJAAN ACEH
1.       Sampai abad 19 Aceh merupakan daerah yang berdaulat dan dihormati oleh dua imperialis di Indonesia dan sekitarnya yaitu Inggris dan Belanda. Berdasarkan Traktat/perjanjian London 1824 maka Aceh dijadikan daerah penyangga (Bufferstate) antara kekuasaan Inggris di Malaka dengan Bengkulu yang diserahkan Inggris kepada Belanda.
2.    Keadaan tersebut tidak dapat bertahan lama karena adanya kepentingan Belanda yang berniat menduduki Aceh sehingga timbullah perlawanan rakyat Aceh, dan terjadilah perang.
3.    Sebab-sebab Perang Aceh
·         Belanda merasa berhak atas daerah Sumatra Timur yang diperoleh dari Sultan Siak sebagai upah membantu Sultan dalam perang saudara melalui Traktat Siak tahun 1858, sementara Aceh berpendapat daerah terebut merupakan wilayahnya.
·         Sejak Terusan Suez dibuka tahun 1869 perairan Aceh menjadi sangat penting sebagai jalur pelayaran dari Eropa ke Asia.
·         Keluarnya Traktat Sumatra tahun 1871 yang menyatakan bahwa Inggris tidak akan menghalangi usaha Belanda untuk meluaskan daerah kekusaannya sampai di Aceh dalam rangka Pax Netherlandica. Traktat Sumatra yang mengancam kedaulatannya. Aceh berusaha untuk mencari bantuan dengan mengirim utusan ke Turki. Selain itu juga dijalin hubungan ke perwakilan negara Amerika Serikat dan Italia di Singapura. Tindakan Aceh ini mencemaskan Belanda lalu menuntut Aceh agar mengakui kedautalan Belanda. Aceh menolak tututan tersebut sehingga Belanda melakukan penyerangan.

4       Sifat perlawanan Aceh ada dua macam yaitu politik dan keagamaan. Perlawanan politik bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan Aceh. Perlawanan politik dipimpin oleh para bangsawan yang bergelar Teuku.
5.     Tokoh-tokoh bangsawan itu  antara lain Teuku Umar dan isterinya bernama Cut Nyak Dien, Panglima Polim, Sultan Dawutsyah, Teuku Imam Lueng Batta. Perang juga bersifat keagamaan yaitu menolak kedatangan Belanda yang akan menyebarkan agama kristen di Aceh. Tokoh keagamaan adalah para ulama yang bergelar Teungku contoh Teungku Cik Di Tiro. Golongan ulama tidak mudah menyerah dan kompromi terhadap Belanda.
6.     Tindakan-tindakan yang dilakukan Sultan Ali Mughayat Syah raja aceh :
·         Mengadakan kerja sama dengan kerajaan demak untuk menghancurkan portugis
·          Menjalin hubungan dan meminta bantuan senjata kepada Turki, Inggris, Gujarat, dan Goa
·         Melengkapi kapal-kapal dagannya dengan prajurit dan senjata.
7.   Jalan Perang :
·         Pada bulan April tahun 1873 pasukan Belanda dipimpin oleh Mayor Jendral JHR Kohler menyerang Aceh namun gagal bahkan Jendral Kohler tewas dalam pertempuran memperebutkan masjid Raya.
·         Pada bulan Desember 1873 pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Jendral Van Swieten dapat menduduki istana serta memproklamirkan bahwa kejaraan Aceh sudah takluk. Nama Banda Aceh kemudian diganti kota raja. Apakah Aceh benar-benar sudah takluk kepada Belanda? Ternyata tidak demikian. Raja Aceh yaitu Sultan Mahmudsyah wafat karena sakit. Putranya yang bernama Muhammad Dawotsyah menjalankan pemerintahan di Pagar Aye. Rakyat Aceh tetap melanjutkan perlawanan dipimpin oleh Panglima Polim.
·         Fase berikutnya sejak tahun 1884 Belanda mempertahankan kekuasaan hanya di daerah yang didudukinya saja. Disitu dibentuk pemerintahan sipil. Sistem ini disebut Konsentrasi Stelsel.

8.     Akhirnya usaha Portugis dan Kerajaan Aceh untuk saling menghancurkan tidak berhasil. Pertentangan antara Portugis dan Kerajaan Aceh berakhir setelah kekuasaan Portugis di Malaka mengalami keruntuhan dengan direbutnya Malaka oleh Belanda pada tahun 1641


B.  PERLAWANAN KERAJAAN TERNATE

1.       Bangsa portugis pertama kali tiba di Maluku, yaitu di Pulau Banda pada thaun 1512. Di Banda, mereka membeli pala, cengkeh, dan fuli yang ditukar dengan bahan pakaian dari India. Setelah selesai melakukan perdagangan di Banda, kapal-kapal Portugis sampa di Hitu dan Ternate. Bangsa Portugis diterima penduduk Ternate dengan baik karena dianggap akan memajukan hubungan perdagangan di antara kedua belah pihak. Bangsa Portugis bahkan diberi kesempatan untuk mendirikan benteng yang ditujukan melindungi persekutuan Tidore Spanyol. Kesempatan itu tidak disia-siakan dengan cara membangun Benteng Saint John di Ternate pada tahun 1522.
2.     Bangsa portugis juga berhasil mengajukan keinginan untuk memonopoli perdangan rempah-rempah yang dituangkan dalam suatu perjanjian. Seja adanya perjanjian tersebut, rakyat Ternate merasa dirugikan karena harus menjual rempah-rempah dengan harga sangat rendah kepada Portugis. Bangsa Portugis yang baru dikenal sebagai sahabat kemudian berubah menjadi pemeras. Olehkarena itu, rakyat Ternate serentak menyatakan permusuhannya terhadap bangsa Portugis.
3.     Pada tahun 1533 rakyat Ternate membakar benteng milik Portugis di bawah pimpinan Dajalo. Portugis segera mengirim bala bantuan dari Malaka di bawah pimpinan Antonio Galvao pada tahun 1536. Rakyat Ternate dan daerah-daerah lain di Maluku kembali berjuang mempertahankan wilayahnya. Pada akhir peperangan, Antonio Galvao berhasil memaksakan perdamaian dengan Rakyat Maluku sehingga Portugis masih dapat mempertahankan kekuasaan di wilayah ini.
4.     Untuk beberapa saat Portugis masih dapat memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Hal ini diperkuat dengna perjanjian yang dibuat tahun 1570 antara Gubernur Lopez de Mesquita dan Raja Ternate Sulatan Hairun. Namun, tidak berapa lama setelah perjanjian itu dibuat, Sultan Hairun dibunuh oleh suruhan Lopez de Mesquita. Kejadian ini menyulut kemarahan Sultan Baabullah, putra Sultan Hairun.
5.     Peperangan rakyat Ternate melawan Portugsi segera berkobar. Selama hampir tujuh tahun Portugis terkurung di dalam benteng-bentengnya. Satu demi satu benteng-benteng itu dapat direbut Rakyat Ternate. Pada tahun 1577 rakyat Ternate dapat mengusur Portugis dari wilayahnya. tepatnya tanggal 28 Desembar 1577
6.     Sultan Baabullah tidak memerintahkan membunuh bangsa Portugis ketika mereka dalam keadaan tidak berdaya. Hal ini mencerminkan sikap kesatria seorang pejuang yang membela tanah air dan bangsa. Setiap manusia berkewajiban untuk menentang praktik-praktik ketidakadilan sebagai perwujudan rasa cinta terhadap nilai-nilai kemanusiaan.









Sejarah PMI


Perhimpunan Palang Merah Indonesia (PMI) sudah dimulai sejak masa sebelum perang  dunia ke-II. Saat itu 21 oktober 1873 pemerintah colonial belanda mendirikan organisasi Palang Merah di Indonesia Het Nederland-Indische Rode Kruis (NIRK) yang kemudian berubah menjadi Nederland Rode Kruis Afdeling Indie (NERKAI). Seiring deangan pergeseran waktu, timbul semangat untuk mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) diawali sekitar tahun 1932. Rencana pendirian tersebut dipelopori oleh  dr. RCL Senduk dan dr. Bahder Djohan. Rencana itu mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia.  Mereka berusaha keras membawa rancangan tersebut dalam Sidang Konferensi NERKAI pada tahun 1940 walaupun akhirnya ditolak. Dengan sangat terpaksa rancangan tersebut disimpan untuk menanti kesempatan yang lebih tepat.

Seperti tak kenal lelah, saat pendudukan jepang mereka kembali  mencoba membentuk suatu Badan Palang Merah Nasional. Namun mengalami kegagalan juga karena mendapat halangan dari pemerintah tentara jepang dan untuk keduakalinya raancangan tersebut harus disimpan.

Akhirnya tepat tujuh belas hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yaitu pada tanggal 3 september 1945, Presiden Soekarno  mengeluarkan perintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional. Atas perintah Presiden RI , maka dr. buntaran yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI Kabinet I, membentuk panitia lima pada 5 september 1945. Panitia tersebut terdiri atas : dr. R. Mochtar (Ketua), dr. Bahder Djohan (Penulis), serta tiga orang anggota, yaitu dr. Djuhana, dr. Marzuki dan dr. Sitanala.
Hasil dari kerja panitia lima tersebut akhirnya berhasil membentuk Perhimpunan Palang Merah Indonesia (PMI) pada 17 september 1945,  dan diketuai oleh Drs. Mohammad Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Pasca pembentukan, PMI mulali merintis kegiatannya dengan member bantuan korban perang revolusi kemerdekaan Indonesia dan pengembalian tawanan perang Sekutu maupun Jepang.
PMI terus melakukan kegiatan pemberian bantuan kemanusiaan hingga akhirnya melalui Keputusan Presiden (Keppres)RIS, Keppres Nomor 25 tanggal 16 januari 1950 yang diperkuat dengan Keppres nomor 246 tanggal 29 November 1963, Pemerintah Indonesia mengakui Keberadaan PMI.
Secara Internasional pada 15 juni 1950, keberadaan PMI diakui oleh Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross) atau disingkat dengan sebutan ICRC. Setelah itu PMI diterima menjadi anggota Perhimpunan Nasional ke-68 oleh Liga Perhimpunan Palang Merah, yang saat ini dikenal dengan IFRC (International Federation of Red Cross and red Crescent Societies) pada 16 oktober 1950.
Nama – nama Tokoh yang Pernah Menjabat Ketua PMI :
1.    Ketua PMI I (1945 - 1946)     : Drs. Mohammad Hatta
2.    Ketua PMI II (1946 - 1948)    : Soetardjo Kartohadikoesoemo
3.    Ketua PMI III (1948 - 1952)   : BPH. Bintoro
4.    Ketua PMI IV (1952 - 1954)   : Prof. Dr. Bahder Djohan
5.    Ketua PMI V (1954 - 1966)    : K.G.P.A.A. Paku Alam VIII (3 Periode)
6.    Ketua PMI VI (1966 - 1969)   : Letna Jenderal Basuki Rachmat
7.    Ketua PMI VII (1970 – 1972) : Prof. Dr. Satrio (3 Periode)
8.    Ketua PMI VIII (1982 - 1986) : Dr. H. Soeyoso Soemodimedjo
9.    Ketua PMI IX (1986 - 1994)   : Dr. H. Ibnu Sutowo (2 Periode)
10. Ketua PMI X (1994 - 1999)    : Dra. Siti Hardiyanti Rukmana
11. Ketua PMI XI (1999 - 2010)   : Mar’ie Muhammad (2 Periode)
12. Ketua  PMI XII (2010 -  )      : Drs. H. M. Jusuf Kalla 

Kamis, 10 Oktober 2013

Arti Lambang PMR


Arti Lambang PMR

Lambang PMR Wira










1.      Segi Lima merah melambangkan Pancasila.
2. Warna dasar kuning melambangkan warna dasar PMR Wira.
3. Segi lima putih melambangkan Panca Satya PMR.
4.    Warna dasar putih melambangkan Kesucian.
5.   Tanda Palang Merah melambangkan Bendera Negara Swiss. 


Senin, 07 Oktober 2013

Sejarah Al-Qur'an


 Sejarah Turunnya Al-Quran


Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat.
Bagian-bagian Al-Qur’an
Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-’Ashr, Al-Kautsar, dan An-Nashr.
Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666. Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim dll. Ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat.
Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an).
Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).
Selanjutnya Al-Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Setiap satu ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain di sebelah pinggirnya. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.
Nisf Al-Qur’an (tanda pertengahan Al-Qur’an), terdapat pada surat Al-Kahfi ayat 19 pada lafal walyatalattaf yang artinya: “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.
Sejarah Turunnya Al-Qur’an
Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui berbagai cara, antara lain:
1. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Nabi SAW tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya.

2. Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi SAW.
3. Wahyu turun kepada Nabi SAW seperti bunyi gemerincing lonceng.
Menurut Nabi SAW, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai Nabi SAW mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim dingin yang sangat dingin.
4. Malaikat Jibril turun membawa wahyu dengan menampakkan wujudnya yang asli.
Setiap kali mendapat wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya. Beliau dapat mengulangi wahyu yang diterima tepat seperti apa yang telah disampaikan Jibril kepadanya. Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril.
Al-Qur’an diturunkan dalam 2 periode, yang pertama Periode Mekah, yaitu saat Nabi SAW bermukim di Mekah (610-622 M) sampai Nabi SAW melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu disebut ayat-ayat Makkiyah, yang berjumlah 4.726 ayat, meliputi 89 surat.

Kedua adalah Periode Madinah, yaitu masa setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah (622-632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini dinamakan ayat-ayat Madaniyyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat.
Ciri-ciri Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyyah
Makkiyah Madaniyyah
Ayat-ayatnya pendek-pendek, Ayat-ayatnya panjang-panjang,
Diawali dengan yaa ayyuhan-nâs (wahai manusia), Diawali dengan yaa ayyuhal-ladzîna âmanû (wahai orang-orang yang beriman).
Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah SWT, hal ihwal surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat (ukhrawi), Kebanyakan tentang hukum-hukum agama (syariat), orang-orang yang berhijrah (Muhajirin) dan kaum penolong (Anshar), kaum munafik, serta ahli kitab.
Ayat Al-Qur’an yang pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah 5 ayat pertama surat Al-’Alaq, ketika ia sedang berkhalwat di Gua Hira, sebuah gua yang terletak di pegunungan sekitar kota Mekah, pada tanggal 17 Ramadhan (6 Agustus 610). Kala itu usia Nabi SAW 40 tahun.
Kodifikasi Al-Qur’an
Kodifikasi atau pengumpulan Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, bahkan sejak Al-Qur’an diturunkan. Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW membacakannya di hadapan para sahabat karena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.
Disamping menyuruh mereka untuk menghafalkan ayat-ayat yang diajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya di atas pelepah-pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, dan kepingan-kepingan tulang.
Setelah ayat-ayat yang diturunkan cukup satu surat, Nabi SAW memberi nama surat tsb untuk membedakannya dari yang lain. Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang penempatan surat di dalam Al-Qur’an. Penyusunan ayat-ayat dan penempatannya di dalam susunan Al-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Cara pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tsb berlangsung sampai Al-Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, setiap tahun Jibril datang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya. Malaikat Jibril mengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangi bacaan ayat-ayat yang telah diwahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri juga melakukan hal yang sama dengan mengontrol bacaan sahabat-sahabatnya. Dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dan kekeliruan.
Para Hafidz dan Juru Tulis Al-Qur’an
Pada masa Rasulullah SAW sudah banyak sahabat yang menjadi hafidz (penghafal Al-Qur’an), baik hafal sebagian saja atau seluruhnya. Di antara yang menghafal seluruh isinya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar bin Khatab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darba, dan Anas bin Malik.
Adapun sahabat-sahabat yang menjadi juru tulis wahyu antara lain adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’b, Mu’awiyah bin Abu Sofyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amr bin As.
Tulisan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan di rumah Rasulullah, mereka juga menulis untuk disimpan sendiri. Saat itu tulisan-tulisan tsb belum terkumpul dalam satu mushaf seperti yang dijumpai sekarang. Pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, setelah Rasulullah SAW wafat.
Kenapa Al-Qur’an Tidak Dibukukan Dalam Satu Mushhaf (Pada Masa Nabi)
Pengumpulan Al-Qur’an yang tidak dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui beberapa masa, dimana kemudian menjadi suatu mushhaf yang utuh.
Di sini kami bertanya: “Kenapa Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tidak dikumpulkan dan disusun dalam bentuk satu mushhaf?. Jawabnya adalah:
Pertama: Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Tidaklah mungkin untuk membukukannya sebelum secara keseluruhannya selesai.
Kedua: Sebagian ayat ada yang dimansukh. Bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bisa dibukukan datam satu buku.
Ketiga: Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya ditempatkan pada awal surat. Yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.
Keempat: Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasululah SAW adalah sangat pendek/dekat. Sebagaimana pembahasan terdahulu bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir adalah:
Firman Allah SWT:
Kemudian Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masanya sangat relatip singkat, yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukannya sebelum sempurna turunnya wahyu.
Kelima: Tidak ada motifasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam ada dalam keadaan baik, ahli baca qur’an begitu banyak, fitnah-fitnah dapat diatasi. Berbeda pada masa Abu Bakar dimana gejala-gejala telah ada; banyaknya yang gugur, sehingga khawatir kalau Al-Qur’an akan lenyap.
Kesimpulan: Kalau Al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf, sedangkan situasi sebagaimana yang tersebut di atas, niscaya Al-Qur’an akan mengalami perubahan dan pergantian selaras dengan terjadinya naskh (ralat) atau munculnya sebab disamping perlengkapan menulis tidak mudah didapat.
Kondisi tidak akan membantu untuk melepaskan mushhaf yang lebih dahulu dan harus berpegang pada mushhaf yang baru karena tidak mungkin setiap bulan ada satu mushhaf yang mencakup tiap ayat Al-Qur’an yang diturunkan. Namun setelah masalahnya stabil yaitu dengan berakhirnya penurunan, wafatnya Rasul, tidak lagi diralat, dan diketahuinya susunan, maka mungkinlah dibukukan menjadi satu mushhaf. Dan inilah yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a. khalifah yang bijaksana, semoga Allah membalas jasanya atas perbuatan beliau dalam mengumpulkan Al-Qur’an beserta orang-orang Islam yang mengikuti jejaknya dengan balasan yang berlipat anda.
Beberapa Pertanyaan Sekitar Pengumpulan Al-Qur’an
Permasalahan yang mungkin sekali dihadapi dan diapungkan oleh kita
Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara terperinci. Secara ringkas kami simpulkan sebagai berikut:
Pertama: Mengapa Abu Bakar ragu-ragu dalam masalah pengumpulan Al-Qur’an padahal masalahnya sangat baik lagi pula diwajibkan oleh Islam?
Jawabnya adalah: Abu Bakar khawatir kalau-kalau orang mempermudah dalam usaha menghayati dan menghafal Al-Qur’an, cukup dengan hafalan yang tidak mantap dan khawatir kalau-kalau mereka hanya berpegang dengan apa yang ada pada mushhaf yang akhirnya jiwa mereka lemah untuk menghafal Al-Qur’an. Minat untuk menghafal dan menghayati Al-Qur’an akan berkurang karena telah ada tulisan dan terdapat dalam mushhaf-mushhaf yang dicetak untuk standar membacanya, sedangkan sebelum ada mushhaf-mushhaf mereka begitu mencurahkan kesungguhannya untuk menghafal Al-Qur’an.
Dari segi yang lain bahwasanya Abu Bakar Siddiq adalah benar-benar orang yang bertitik-tolak dari batasan-batasan syari’at, selalu berpegang menurut jejak-jejak Rasulullah SW, dimana ia khawatir kalau-kalau idenya itu termasuk bid’ah yang tidak dikehendaki oleh Rasul Karena itulah maka Abu Bakar mengatakan kepada Umar: “Mengapa saya harus mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW? Barangkali ia takut terseret oleh ide-ide dan gagasan yang membawanya untuk menyalahi sunnah Rasulullah SAW serta membawa kepada bid’ah.
Tetapi tatkala ia menganggap bahwa hal tersebut adalah sangat penting dan pendapat tersebut pada hakikatnya adalah merupakan suatu sarana yang amat penting demi kelestarian kitab Al-Qur’an dan demi terpeliharanya dari kemusnahan dan perubahan, lagi pula ia meyakini bahwa hal tersebut tidaklah termasuk masalah yang menyalahi ketentuan dan bid’ah yang sengaja dibikin-bikin, maka ia bertekad baik untuk mengumpulkan Al-Qur’an. Akhirnya ia bisa memuaskan Zaid mengenai masalah ini sehingga Allah melapangkan dadanya dan Zaid tampil untuk melaksanakan usaha yang amat penting ini. wallahu alam.
Kedua: Kenapa Abu Bakar dalam hal ini memilih Zaid bin Tsabit dari shahabat lainnya?.
Jawabnya adalah: Zaid adalah orang yang betul-betul memiliki pembawaan/kemampuan yang tidak dimiliki oleh shahabat lainnya dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an, ia adalah orang yang hafal Al-Qur’an, ia seorang sekretaris wahyu bagi Rasulullah SAW, ia menyamakan sajian yang terakhir dari Al-Qur’an yaitu dikala penutupan masa hayat Rasulullah SAW.
Disamping itu ia dikenal sebagai orang yang wara’ (bersih dari noda), sangat besar tanggungjawabnya terhadap amanat, baik akhlaknya dan taat dalam agamanya. Lagi pula ia dikenal sebagai orang yang tangkas (IQ-nya tinggi). Demikianlah kesimpulan kata-kata Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tatkala ia memanggilnya dengan mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas yang tidak kami ragukan. Anda adalah penulis wahyu Rasul”.
Dengan beberapa sifat dan keistimewaan di atas, Abu Bakar Shiddiq memilih dan menunjuknya sebagai pengumpul Al-Qur’an. Adapun alasan yang menyatakan bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang yang sangat teliti, dapat dilihat dari kata-katanya: “Demi Allah, andaikata saya ditugaskan untuk memindahkan sebuah bukit tidaklah lebih berat jika dibandingkan degan tugas yang dibebankan kepadaku ini”. (Al-Hadits).

Kamis, 03 Oktober 2013

Perbandingan Jenis Kelamin (Sex Ratio) Dan Angka Ketergantungan (Dependency Ratio)



Perbandingan Jenis Kelamin (Sex Ratio) Dan Angka Ketergantungan (Dependency Ratio)


               A.  PERBANDINGAN JENIS KELAMIN (SEX RATIO)

Definisi
Rasio Jenis Kelamin (RJK) adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan.
Kegunaan
Data mengenai rasio jenis kelamin berguna untuk pengembangan perencanaan pembangunan yang berwawasan gender, terutama yang berkaitan dengan perimbangan pembangunan laki-laki dan perempuan secara adil. Misalnya, karena adat dan kebiasaan jaman dulu yang lebih mengutamakan pendidikan laki-laki dibanding perempuan, maka pengembangan pendidikan berwawasan gender harus memperhitungkan kedua jenis kelamin dengan mengetahui berapa banyaknya laki-laki dan perempuan dalam umur yang sama. Informasi tentang rasio jenis kelamin juga penting diketahui oleh para politisi, terutama untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam parlemen. 

Cara Menghitung
RJK diperoleh dengan membagi jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan dan hasilnya dikalikan dengan 100.  
Rumus






 dimana
RJK adalah rasio jenis kelamin
∑ L adalah jumlah penduduk laki-laki di suatu daerah pada suatu waktu
∑ P adalah jumlah penduduk perempuan di suatu daerah pada suatu waktu
K =100 pendduduk perempuan.

Data yang Dibutuhkan
Jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan di daerah yang sama untuk suatu tahun tertentu.

Sumber Data
Tabulasi penduduk menururt jenis kelamin dari Sensus Penduduk, Supas atau Susenas dan lain lain. 


Contoh
Jumlah penduduk laki-laki menurut Sensus Penduduk tahun 2000 adalah 103,179,900 orang, dan jumlah penduduk perempuan dari data yang sama adalah 102,663,400 orang. Jadi rasio jenis kelamin Penduduk Indonesia tahun 2000 adalah 101. Artinya, tiap tiap 100 penduduk perempuan ada sebanyak 101 penduduk laki-laki.

Rasio jenis kelamin lebih dari seratus untuk Indonesia baru pertama kali terjadi pada tahun 2000 ini. Sebelumnya rasio jenis kelamin berada sedikit dibawah 100, misalnya 98 atau 97. Artinya untuk tiap 100 penduduk perempuanhanya ada 97 atau 98 penduduk laki-laki. Di daerah di mana diperlukan banyak tenaga laki-laki untuk bekerja seperti di daerah pertambangan mempunyai rasio jenis kelamin lebih tinggi dari 100, artinya di daerah itu terdapat penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan.  Daerah yang ditinggalkan merantau oleh para laki-laki cenderung mempunyai rasio jenis kelamin dibawah 100 yang menunjukkan jumlah perempuan lebih banyak dari pada penduduk laki-laki.

Rasio jenis kelamin dapat diamati menurut umur penduduk.  Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa rasio jenis kelamin penduduk dibawah usia 14 tahun berada diatas angka 100. Artinya ada kemungkinan bahwa lebih banyak anak laki-laki yang dilaporkan dalam sensus dibanding anak perempuan. Di daerah dimana anak laki-laki lebih disukai dibanding anak perempuan (son preference) seperti di kalangan masyarakat Batak, di India atau China misalnya, rasio jenis kelamin anak-anak selalu diatas 100, karena ada kecenderungan kekurangan pelaporan (under-reporting) anak perempuan.


        B.  ANGKA KETERGANTUNGAN (DEPENDENCY RATIO)

Penduduk muda berusia dibawah 15 tahun umumnya dianggap sebagai penduduk yang belum produktif karena secara ekonomis masih tergantung pada orang tua atau orang lain yang menanggungnya. Selain itu, penduduk berusia diatas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi sesudah melewati masa pensiun. Penduduk usia 15-64 tahun, adalah penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif. Atas dasar konsep ini dapat digambarkan berapa besar jumlah penduduk yang tergantung pada penduduk usia kerja. Meskipun tidak terlalu akurat, rasio ketergantungan semacam ini memberikan gambaran ekonomis penduduk dari sisi demografi.

Definisi
            Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) adalah perbandingan antara jumlah penduduk berumur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun keatas dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15-64 tahun. Rasio ketergantungan dapat dilihat menurut usia yakni Rasio Ketergantungan Muda dan Rasio Ketergantungan Tua.
·         Rasio Ketergantungan Muda adalah perbandingan jumlah penduduk umur 0-14 tahun dengan jumlah penduduk umur 15 - 64 tahun.
·         Rasio Ketergantungan Tua adalah perbandingan jumlah penduduk umur 65 tahun ke atas dengan jumlah penduduk di usia 15-64 tahun.

Kegunaan
            Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang. Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. 

Cara Menghitung

            Rasio Ketergantungan didapat dengan membagi total dari jumlah penduduk usia belum produktif (0-14 tahun) dan jumlah penduduk usia tidak produktif (65 tahun keatas) dengan  jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun). 

Rumus






 
  










Dimana
RKTotal  = Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Muda dan Tua
RKMuda  = Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Muda
RKTua  = Rasio Ketergantungan Penduduk Usia Tua
P(0-14)  = Jumlah Penduduk Usia Muda (0-14 tahun)
P(65+)  = Jumlah Penduduk Usia Tua (65 tahun keatas)
P(15-64)  = Jumlah Penduduk Usia Produktif (15-64 tahun)

Contoh
Untuk memudahkan pemahaman tentang perhitungan Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio), di bawah ini diberikan contoh perhitungan dengan menggunakan data SP 2000 (lihat Tabel 1). Langkah pertama adalah menghitung jumlah penduduk yang dikelompokkan menjadi tiga yaitu kelompok umur muda (0-14 tahun), kelompuk usia kerja 15-64 tahun (umur produktif) dan kelompok umur tua (65 tahun ke atas).  
Tabel 1  Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Muda, Umur Produktif, dan Umur Tua, Tahun 2000

Kel. Umur 
Jumlah Penduduk 
0-14
63 206 000
15-64
13 3057 000
65+
9 580 000

Setelah jumlah penduduk kelompok umur muda (0-14 tahun), umur produktif (15-64 tahun) dan umur tua (65 tahun ke atas) diperoleh. Selanjutnya dapat dihitung rasio ketergantungan (dependency ratio, dengan hasil seperti yang disajikan pada Tabel 3 berikut.  
Tabel 2 Rasio Ketergantungan Muda, Tua, dan  Total  Tahun 2000

Keterangan
Rasio Ketergantungan
RKTot
54,7
RKMuda
47,0
RKTua
7,2


Interpretasi
Dari contoh perhitungan di atas, rasio ketergantungan total adalah sebesar 54,7 persen, artinya setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggunagn sebanyak 55 orang yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi. Rasio sebesar 54.7 persen ini disumbangkan oleh rasio ketergantungan penduduk muda sebesar 47,0 persen, dan rasio ketergantungan penduduk tua sebesar 7,2 persen. Dari indikator ini terlihat bahwa pada tahun 2000 penduduk usia kerja di Indonesia masih dibebani tanggung jawab akan penduduk muda yang proporsinya lebih banyak dibandingkan tanggung jawab terhadap penduduk tua.
Rasio ketergantungan ini sudah jauh berkurang dibandingkan dengan keadaan pada saat sensus 1971. Pada tahun 1971 rasio ketergantungan total adalah sebesar 86 per 100 penduduk usia kerja, dan kemudian menurun secara pasti sampai tahun 2000. Penurunan ini terjadi terutama karena penurunan tingkat kelahiran sebagai dampak dari keberhasilan program keluarga berencana selama 30 tahun terakhir.